Cemari Lingkungan, Warga Minta Pabrik Peleburan Besi di Desa Helvetia Ditutup


LABUHAN DELI | DikoNews7 -

Cemari lingkungan, masyarakat Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, minta pabrik peleburan besi ditutup, Selasa 27/3/2018.

Menindak lanjuti keluhan warganya, Sekretaris Camat Labuhan Deli, Syafrudin Nasution didampingi Kasi Trantib, Budi Pane beserta Kepala Dusun XI, Ahmad Jauhari Nasution ST, mendatangi lokasi pabrik di Jalan Persatuan 7 Dusun XI, Desa Helvetia.

Pantauan dilokasi, terlihat Kasi Trantib, Budi Pane memanggil Aan selaku pengusaha dan memberi arahan terkait limbah pabrik yang dikeluhkan masyarakat sekitar.

"Seharusnya pabrik kamu ini punya cerobong yang tinggi agar asap tidak mengganggu warga. Nanti kita akan beri kamu surat untuk datang ke kantor Desa Helvetia untuk duduk bersama masyarakat menyelesaikan masalah ini", ucap Budi.

Sementara Kepala Dusun XI, Ahmad Jauhari Nasution ST mengatakan jika dirinya bersama warga sudah mendatangi Aan selaku pengusaha. Namun tampaknya Aan tidak peduli.

"Saya bersama warga beberapa hari yang lalu sudah pernah datang kesini, tapi tampaknya Aan tidak respon dan terkesan membandel serta tidak menanggapi keluhan warga", ucap Kadus XI yang kerap disapa Pak Adek ini.

 
Seperti diberitakan sebelumnya, limbah pabrik peleburan besi yang berada di Dusun XI, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, meresahkan warga diwilayah tersebut, Kamis 22/3/2018.

Pasalnya, limbah industri tersebut mengeluarkan asap dan bau tak sedap yang dikuatirkan bisa menimbulkan infeksi saluran pernapasan.

Warga juga menyebut jika industri ini tidak memiliki surat izin berdiri serta persetujuan Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Salah seorang warga AZ (50) mengatakan, tiap hari mereka harus mencium bau menyengat yang menyesakkan dada dan mengganggu pernafasan dari limbah industri tersebut. 

Ia mengaku keberatan dengan beroperasinya pabrik yang dianggap pemicu polusi udara dari peleburan besi yang dibuat secara dimasak dengan batubara.

"Nampaknya saja tempatnya sepi, padahal di dalam mereka memasak atau melebur besi. Polusinya jelas dari proses memasak besi. Kalau sudah masak, asapnya itu bisa pedih kena mata dan kulit pun bisa gatal-gatal", keluhnya.

 
Saat dilacak oleh awak media kelokasi, kondisi pabrik memang agak menjorok ke dalam perkampungan. Terlihat beberapa pekerja tengah sibuk memasak besi untuk diproduksi dalam bentuk lain.

"Akibat asap dari produksi pabrik ini, beberapa orang warga termasuk cucu saya sakit karena mengalami gangguan pernafasan dan harus dirawat ke rumah sakit", sebut AZ.

Kepala Dusun XI, Ahmad Jauhari Nasution ST, mengatakan akan melakukan mediasi dengan pihak pabrik terkait keluhan warganya untuk mencari solusi.

"Benar, warga kita resah karena pabrik tersebut tidak mengolah limbahnya dengan baik. Saya bersama warga akan menegur pihak pengusaha agar kedepannya lebuh baik", ucapnya.

Pantauan awak media dilapangan, pabrik ini tidak ada memasang plank nama. Bahkan para pekerjanya juga terlihat tidak menggunakan pengaman. Selain itu pabrik ini juga tidak memiliki cerobong asap sebagai tempat pembuangan limbah pembakaran.

Ketika hal ini dikonfirmasikan, pemilik pabrik yang tidak menyebutkan namanya mengaku jika pabriknya memasak atau melebur besi dengan menggunakan bahan baku batubara dan kayu untuk memanaskan besi yang akan dicairkan dan selanjutnya dicetak.

Ketika disinggung terkait perijinan, warga keturunan ini hanya diam dan tidak dapat menjawab pertanyaan wartawan. Masyarakat berharap pihak pengusaha memperhatikan warga sekitar, jika tidak warga akan melakukan aksi demo agar pabrik ini tidak lagi beroperasi diwilayah tersebut. 

Reporter : M Rachman
Editor : Sapta
Share on Google Plus
    DikoNews7 Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment