Minta Uang Preman, Perkelahian Abang Beradik Berujung Saling Lapor

MEDAN | DikoNews7 -

Masih ingatkan dengan perkelahian dan pengeroyokan yang terjadi di Jalan Gaharu tepatnya di Gang Sekolah, Kecamatan Medan Timur, Selasa (20/3/2018) sekira pukul 18.00 wib yang lalu ?

Ya, petang itu Venarji alias Pepeng (43) warga Jalan Muktar Basri, Asrama Singgasan, Kecamatan Medan Timur datang ke Polrestabes Medan, dengan wajah berlumuran darah. Disitu pria gondrong ini mengaku dipukuli oleh abang beradik berinisial, Alex (27) dan abangnya Dian (35) warga Jalan Gaharu Gang Sekolah.

Beberapa menit datang untuk melapor, teman Pepeng yang bernama, Vetel (40) warga Jalan Gaharu, Gang Sekolah, datang juga ingin melapor dan mengaku kalau dirinya juga turut dipukul oleh abang beradik AL dan DN.

Kepada wartawan awalnya mereka mengaku tak mengetahui mengapa dipukul AL dan DN. Mereka mengatakan pada saat itu hendak melerai AL, DN dan ES alias AS yang tengah berkelahi. Ketiganya merupakan abang beradik.

Namun ternyata, hal itu dibantah keras oleh AS, DN dan AL yang akhirnya juga membuat laporan resmi penganiayaan dan pengeroyokan di Polsek Medan Timur. 

Abang beradik yang beralamat di TKP ini melapor karena telah dipukuli oleh Venarji alias Pepeng, Vetel serta adik kandungnya yang bernama Bambang (37). Akibatnya, kedua belah pihak saling lapor melapor Ke polisi.

"Mana mungkin kami abang beradik kandung yang berantam, Kamilah yang dipukuli karena mereka mau memeras dan merasa pereman dikawasan itu," ujar ES alias AS kepada wartawan usai membuat laporan pengaduan di Polsek Medan Timur, Minggu (25/3/2018).

Dijelaskanya lagi, awal kejadian itu bermula saat korban ES alias AS didatangi salah seorang pelaku Bembeng guna meminta jatah uang bulanan Organisasi Kepemudaan (OKP) ditempat AS bekerja.

"Awalanya, Seminggu sebelum kejadian, si Bembeng jumpai saya dikawasan proyek tempat saya kerja di depan Gang sekolah, kebetulan saya ngawasi proyek bangunan disitu. Dia (Bembeng) minta uang bulanan OKP, jadi saya bilang sabar dan nanti akan ku bicarakan sama pimpinan perusahaan," kata korbanya.

Dari situ, pembicaraan pun berlanjut beberapa hati setelahnya. Dimana korban kembali bertemu dengan pelaku yang memang diketahui pengangguran yang sering kumpul dan diduga sebagai pengedar narkoba dikawasan itu.

Pas jumpa lagi, saya sedang berboncengan diatas kereta sama anak dan istri saya, lalu dipanggil si Bembeng. Kami berhenti dekat pos OKP, dia menemui saya dan menanyakan kembali masalah uang bulanan OKP dari kerjaan saya itu. 

"Jadi saya jawab sabar dan jangan mendesak aku, karena mau saya sampaikan ke atasan, saya perlu timing yang tepat dan aku bilang jangan aku yag dikejar seperti berhutang. Tapi dia (Bembeng) terus mendesak. Karena dia mendesak, jadi saya bilang kalau uang OKP gak ada. Kubilang lagi, tapi kalau abang mau bekerja, aku upayakan," kata AS sambil menirukan perkataannya pada pelaku saat itu.

Rupanya, ucapan korban saat itu membuat pelaku Bembeng jadi geram. Dengan perkataan kasar, pelaku seakan tak terima dianggap sebagai pengangguran. Guna menghindari keributan, korban langsung membawa anak dan istrinya kembali ke rumah. Selanjutnya korban kembali menemui pelaku Bembeng guna memberikan penjelasan bahwa dirimu bukan meremehkan pelaku.

"Sewaktu aku datang lagi, maksudnya supaya dia gak tersinggung mau ku kasih kerjaan di tempat ku itu kalau dia mau. Rupanya disitu si Bembeng bersama si Vetel. Si Bembengnya langsung nyolot dan malah menyodorkan wajahnya supaya aku pukul karena dia geram. Karena wajahnya dekat kali dengan wajahku, saya dorong untuk menghindar," ujarnya.

Disitulah perseteruan berlanjut perkelahian terjadi. AS mengaku dirinya semakin terpojok dan tiba-tiba Bembeng maju mendekatinya dan langsung menampar AS dengan kedua tangganya. Sejurus kemudian Vetel juga membalas memukul dada AS. Tak terima, korban mencoba membalas juga.

"Saya dikeroyok dua (Bembeng dan Vetel), baru tiba-tiba datang si Venarji langsung menendang perutku. Aku tersudut dan terpojok di pohonan bambu. si Vetel terus memukuli saya dan saya berupaya menangkis sambil melawan. Pergelangan tanganku sampai bengkak karena menangkis pukulan dan terus dihajar," lanjut AS.

Karena kalah jumlah dan melihat keributan, warga langsung dilerai. Ternyata, Vetel masih emosi juga. Pria tegap itu berlari ke rumahnya yang juga tak begitu jauh dari lokasi, kembali datang dengan menenteng sebilah pisau dan mengejar AS seperti kesetanan.

Beruntung warga disana kembali melerai sehingga pisau yang dibawa Vetel tak dapat digunakan. Dia itu lah datang AL adik AS yang mencoba menanyakan kepada pelaku (Vetel) mengapa mengejar AS sambil memegangi pisau. Hal itu membuat Vetel juga naik darah terhadap Alex sehingga keduanya terlibat adu mulut.

"Adik saya AL juga terancam karena si Vetel bilang siapa yang macam-macam mau ditikamnya. Terus adikku yang satu lagi si DN datang menanyakan kenapa abangnya (AS) dikeroyok. Kemudian si Venarji menantang dan menyikut si AL. Kemudian si AL ditumbuk, lalu dibalas oleh DN sampai pelaku berdarah," ujar AS yang diamini adiknya DN, sambil menunjukan bukti laporan dengan nomor STPPL/228/III/2018/Restabes Medan/Sek.Medan Timur.

DN juga mengaku kalau apa yang dilakukannya hanya membela diri dari ancaman pelaku Bambang saja, Venarji dan Vetel. Abang beradik ini juga mengatakan kalau ketiganya merupakan pembuat onar di kawasan Jalan Gaharu khususnya ditempat tinggal mereka karena diduga sebagai pengedar narkoba.

"Kami bertiga bersama abang dan adik saya apabila di test urine bersama mereka (Venarji alias Pepeng, Bembeng dan Vetel) oleh polisi dan BNN kami siap kok. Dan kami yakin kalau mereka pengguna narkoba. Karena kami tau dan saling kenal lantaran kami juga orang lama disitu. Mereka memang perusak warga karena narkobanya," Pungkas, Dian adik AS meyakinkan Petugas. 

Reporter : Romi
Editor : Sapta
Share on Google Plus
    DikoNews7 Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment