Tak Terima Diberikan Rujukan Diagnosa Tumor Rahim, Keluarga Korban Gruduk Puskesmas

MEDAN | DikoNews7-

Tak terima dengan rujukan diagnosa yang diberikan oleh dokter, orang tua dan keluarga korban Labrak Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas) yang berada di Jalan Jermal 15, Kecamatan Medan Denai, Rabu (28/3/2018) pagi.

Kedatangan warga untuk memprotes ulah seorang dokter yang memberikan rujukan pengantar dengan diagnosa yang bertuliskan "Leiomyoma of ulerus, unspecified" yang artinya tumor rahim.

Aksi protes itu disampaikan Rizky Turnip (25) warga Jalan Jermal 15, Gang Kesehatan, Kelurahan Menteng, Medan Denai. Didampingi adik iparnya Marliani (38) dan warga, Rizky menuturkan, sebelum meminta surat rujukan berobat ke RS Madani, lebih dulu ia membawa istrinya, bernama Tutri Indrani (43) ke klinik dikawasan itu.

Dimana, istrinya itu yang sedang hamil 6 bulan, mengeluhkan sakit diperutnya, Selasa (27/3/2018) kemarin. Rizky bersama adik iparnya pun membawa istrinya berobat ke klinik tak jauh dari rumahnya. Sewaktu diperiksa, dokter disana mengatakan kepada Tutri bahwa denyut jantung bayi didalam kandungannya tak berdetak lagi.

"Istriku disarankan dokter untuk USG ke RS Madani Jalan AR Hakim, untuk memastikan kondisi bayinya di dalam kandungannya. Karena dokter di klinik mengatakan, detakan jantung bayi dalam kandungan Tutri sudah tidak ada lagi," kata, pekerja mebel ini kepada wartawan.

Untuk memastikan ucapan dokter tersebut, Rizky pergi ke Puskesmas Medan Denai, Selasa (27/3/2018) didampingi adik iparnya. Kedatangan pria mualaf ini untuk meminta surat rujukan berobat ke RS Madani. Begitu diperiksa dokter spsialis kadungan, Tutri mengidap tumor rahim.

"Di surat rujukan itu, dokter Yudisi Rolasni Silitonga menuliskan diagnosa atau jenis penyakit istriku, yakni leiomyoma of ulerus, unspecified atau tumor rahim. Mendengar atau membaca surat rujukan itu, kami tidak percaya. Karena setahu kami, Tutri hamil," kata Rizky.

Merasa khawatir, keluarga istri Rizky membawa Tutri ke RS Madani, Rabu (28/3/2018) pagi, untuk memeriksa kandunganya. Hasilnya bayi di dalam kandungan ibu rumah tangga itu telah meninggal dunia di dalam perut. Akhirnya Tutri dipaksakan doker melahirkan setelah dikasih obat perangsang.

Karena itu, keluarga Rizky kesal dengan surat rujukan yang salah diagnosa. "Jelas kami kesal atas pelayanan yang diberikan pihak Puskesmas. Masak istriku di diagnosa mengidap tumor rahim. Padahal istriku hamil. Lain kali jangan seperti itu dokternya," ungkap Rizky.

Sementara suami korban didampingi keluarganya usai memakamkan jasad anaknya di pekuburan umum Jalan Raya Menteng Medan Denai mengaku bahwa dr Yudisi Rolasni Silitonga, sudah dua kali memberikan pernyataan yang salah mengenai kandungan istrinya.

"Sekitar setahun yang lalu dr Yudisi Rolasni Silitonga juga mengatakan kalau istri saya tidak hamil, padahal hamil 3 bulan. Mengetahui itu, istri saya jadi frustasi dan stres sehingga anak yang dikandungan istri saya juga meninggal kala itu. Makanya, saya juga bingung sama dokter itu," kata Rizky Turnip, saat ditemui di rumahnya yang terletak dibelakang Puskesmas tempatnya meminta rujukan tersebut.

Ia berharap agar dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan, dr Yudisi Rolasni Silitonga dipecat atau dicopot dari jabatannya. "Enak saja dokter itu minta maaf dan mengakui kesalahannya. Padahal yang diperiksa dokter itu kan nyawa. Udah 2 kali ini ya," kesal keluarga Rizky.

Sementara itu, Fahkrurozi yang ikut menemani keluarga Rizki saat memprotes rujukan di Puskesmas tersebut mengaku juga sempat geram. Pasalnya, dr yang bersangkutan seolah tak mau disalahkan.

"Kita sangat kecewa dengan pelayan publik yang terjadi di puskesmas itu. Maka itu, saya berharap dengan kejadian ini, Kepala Dinas Kota Medan selektif menempatkan dokter yang menjadi harapan masyarakat," Bebernya, Fakhrurozi yang merupakan Camat LSM LIRA ini.

Kepala Puskesmas Medan Denai, dr Budi Ikhsan ketika dikonfirmasi tidak berada di tempat. Sedangkan para dokter termasuk spesialis kebidanan dan penyakiit kandungan, dr Yudisi Rolasni Silitonga tidak ingin dikonfirmasi dan mengusir beberapa wartawan dari ruangan kerjanya.

Reporter : Romi Arfiansyah
Editor     : Sapta
Share on Google Plus
    DikoNews7 Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment