Peracik dan Pemilik Home Indusri Pil Ekstasi Cengengesan Jalani Sidang

MEDAN | DikoNews7 -

Terdakwa Haris Pribadi, bersama empat rekannya, Diana Nasution, Ahmad Efendi, Firmansyah dan Julfan Efendi, terlihat cengengesan saat menjalani sidang diruang Cakra 6 Pengadilan Negri Medan Rabu (1/8/2018) sore.

Dihadapan Majelis Hakim yang di Ketuai Safril Batubara, kelima terdakwa mengaku kalau terdakwa Haris benar pemilik home indusri pembuatan pil ekstasi yang  ditangkap BNN Sumut pada 2017 lalu dengan barang bukti 48 butir pil ekstasi dirumahnya.

"Benar Pak hakim pemilik home indusri pembuatan pil ekstasi dan barang bukti itu milik saya, sedangkan 4 rekan saya ini sebagai pekerja dan membantu saja," ucap Haris yang terkesan membela 4 terdakwa lainnya yang sama-sama ditangkap BNN Sumut di dalam ramah Haris.

Menyikapi keterangan terdakwa Haris, Ketua Majelis Hakim Safril Batu Bara dan Hakim Anggota Sri Wahyuni Batu Bara langsung mempertanyakan prihal bahan-bahan maupun alat-alat pembuatan barang haram tersebut dan berapa banyak produksi setiap harinya.

Nah dengan gamblang sambil tertawa kecil Haris menjawab kalau proses pembuatan barang haram tersebut diracik dengan obat-obatan dan dicampur bahan kimia.

"Bahan baku membuat pil ekstasi itu dari obat-obatan, seperti Bodrek dan jenis obat lainnya dicampur dengan bahan kimia. Sedangkan alat-alatnya blender, palu dan cetakan terbuat dari jenis logam Pak Hakim. Kalau pembuatannya tidak setiap hari, sesuai pesanan pelanggan dalam 1 minggu 2 kali, bisa mencapai ratusan butir, paling sedikit 100 butir," ucap Haris dan diamini 4 terdakwa lainnya.

Setelah mendengarkan keterangan para terdakwa Majelis Hakim menunda persidangan hingga pekan depan, dengan agenda tuntutan.

Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Sumut Dwi Meli Nova menyebutkan kalau ke 5 terdakwa diancam pidana dalam Pasal 114(2) Yo Pasal 132 Subs Pasal 112 ayat (2)  Yo pasal 132 Undang undang RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkoba, hukumannya minimal 20 tahun penjara.

"Minimal hukumannya 20 tahun penjara dan maksimal seumur hidup," ucap Nova kepada wartawan. 


Reporter : Nizar
Editor : Sapta
Share on Google Plus
    DikoNews7 Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment