Ketua Tim Pemantau Pangan Sumut : Hujan Kerap Memicu Terjadinya Fluktuasi Harga Pangan - Diko News

Ketua Tim Pemantau Pangan Sumut : Hujan Kerap Memicu Terjadinya Fluktuasi Harga Pangan


Foto : Ilustrasi 


DN7 | Medan - Secara ilmiah dari hasil pemantauan dan penelitian di pasar tradisional, hujan kerap memicu terjadinya fluktuasi harga pangan. Hal ini dikatakan Ketua Tim Pemantau Pangan Sumut, Gunawan Benjamin, Rabu (9/9/2020).
Pada akhir pekan kemarin (minggu), kita melihat hujan begitu deras mengguyur kota medan, dan juga mengguyur banyak wilayah petani maupun jalur distribusi. Hujan yang lebat tersebut membuat aktifitas masyarakat banyak tertahan di rumah. Hujan yang berlanjut dari siang hingga ke malam tersebut memicu terjadi kenaikan harga pangan pada hari senin.
“Terpantau harga bawang merah, daging ayam dan cabai rata rata naik sekitar 2500 hingga 3000 per kg nya. Dan selama melakukan pemantauan di banyak pasar tradisional, hujan juga kerap membuat masyarakat enggan untuk datang ke pasar. Selain dikarenakan hujan membuat masyarakat dengan sendirinya tetap berada di rumah. Namun hujan yang kerap memicu becek, kotor, hingga bau tidak sedap juga membuat masyarakat enggan ke pasar,”katanya.
Disaat hujan terjadi bersamaan dengan aktifitas masyarakat (subuh menjelang siang), maka tren konsumsi bahan kebutuhan pokok kerap mengalami penurunan yang sangat potensial memicu penurunan harga. Sementara, hujan yang terjadi siang, hingga malam atau bahkan berlanjut ke pagi hari. Dan jika hujan terjadi di wilayah petani dan jalur distribusi, maka kerap memicu kenaikan harga.
“Salah satu contoh yang terjadi belakangan ini adalah hujan yang terjadi siang hingga malam di sentra produksi (petani) memicu terjadinya penuruan setok sejumlah kebutuhan pangan di Medan. Seperti cabai merah yang naik dari 24 ribuan menjadi 27 ribuan, daging ayang yang semula 25 ribuan menjadi 27 ribuan, dan bawang merah yang semula 24 ribuan juga naik 27 ribuan per kg,” ujarnya.
Jadi hujan tidak memiliki pengaruh yang sama. Tergantung waktu dan dimana hujan itu terjadi. Medan adalah pusat konsumsi (konsumen), sementara kabupaten karo atau wilayah pegunungan lain adalah sentra produksi (petani). Jadi kalau wilayah produksi diguyur hujan seharian, namun wilayah konsumen tidak, maka kecenderungan harga akan naik.
Tetapi kalau sentra produksi diguyur hujan seharian, namun di pusat konsumsi tidak, maka potensi harga akan memiliki kecenderungan untuk turun. Namun jika kedua wilayah tersebut diguyur hujan seharian, maka kecenderungan harga akan bergerak stabil, demand and supply masih akan berimbang seperti halnya kalau kedua wilayah justru cuacanya cerah seharian.
“Namun, itu hanya rumus jika hujan atau panas datang dan pergi selama satu hari dan tidak lebih. Tetapi kalau berkepanjangan, seperti musim hujan dan terus menerus hujan, atau musim panas dan panas berkepanjangan, ini juga bisa menimbulkan masalah gejolak harga nantinya. Jadi jangan pernah berpikir bahwa harga hanya digerakan oleh sisi permintaan dan penawaran saja. Tetapi cobalah untuk memahami bagaimana permintaan dan penawaran itu terjadi,” tandasnya. (Asen)

Editor : Sapta

No comments

Powered by Blogger.
close