Puluhan Hektar Mangrove Terancam Mati, Kata Presiden BHI: Pelaku Pencemaran Harus Ditindak


DikoNews7 -

Dampak dari pencemaran Marine Fuel Oil (MFO) di pesisir laut Belawan sangat serius. Selain biota laut lamban berkembang, dikuatirkan puluhan hektar hutan Mangrove terancam mati. 

"Pelaku pencemaran di laut harus diberikan tindakan tegas. Selain merusak ekosistem, pencemaran minyak mengancam puluhan hektar hutan Mangrove," ungkap Presiden Budaya Hijau Indonesia (BHI) Bathara, Selasa (23/1/2024). 

Pencemaran limbah minyak sangat berdampak pada mata pencarian sehari-hari nelayan tradisional di perairan Belawan. 

"Dipastikan akibat limbah minyak, ekosistem di dalam hutan Mangrove akan terganggu. Kepiting, udang, kerang dan segala jenis ikan tak berkembang baik, bahkan terancam mati," ucap aktifis lingkungan hidup tersebut. 

Lebih lanjut banyak hal krusial yang bakal timbul setelah minyak menggenangi puluhan hektar hutan Mangrove. 

"Diperlukan waktu lama untuk dapat memulihkan keadaan dalam hutan Mangrove setelah tercemar minyak. Mungkin bisa tiga tahun lamanya agar ekosistem hutan Mangrove balik seperti semula," beber Bathara. 

Diketahui pencemaran tumpahan minyak berasal dari gudang 103 pelabuhan Ujung Baru Belawan. 

Nelayan yang paling terdampak dari limbah MFO adalah nelayan jaring kepiting, bubu kepiting, bubu pancang, jala udang, rawe senangin, jaring seloncong, jaring gulama, jaring belanak, bubu alur, jaring senangin dan belat (jaring pemikat ikan).

Penelusuran awak media jejak bekas pencemaran minyak MFO terlihat di bawah tonggak rumah warga, penyangga dermaga PLN Sicanang, belat (jaring pemikat ikan) dan batang pohon Mangrove di pesisir laut Belawan. (Red)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel