Hendriyanto Sitorus, Modal Kolaboratif, dan Masa Depan Regenerasi Golkar Sumatera Utara
DikoNews7 -
Pengembalian formulir pendaftaran oleh Hendriyanto Sitorus dalam kontestasi Musda Partai Golkar Sumatera Utara tidak bisa dibaca semata sebagai tahapan administratif.
Hal tersebut merupakan simbol artikulasi kepemimpinan berbasis kaderisasi dan regenerasi, yang justru seringkali menghadapi resistensi dari elite lama yang merasa terancam oleh perubahan.
Mengacu pada teori sirkulasi elite Vilfredo Pareto, setiap organisasi politik akan selalu mengalami pertarungan antara elite lama (governing elite) dan elite baru (emerging elite).
Hendriyanto Sitorus merepresentasikan elite baru yang lahir dari proses panjang dalam struktur partai, dengan modal loyalitas, konsistensi, dan keberanian mengambil risiko politik sejak awal.
Sebaliknya, kemunculan calon lain yang belakangan menguat justru mencerminkan gejala resistensi elite lama yang tidak siap kehilangan pengaruh.
Dalam konteks ini, pencalonan alternatif bukan lagi sekadar kompetisi gagasan, melainkan ekspresi politik balas dendam sebuah praktik yang dalam teori konflik elite dipahami sebagai upaya mempertahankan dominasi melalui delegitimasi figur yang dianggap mengancam status quo.
Politik tidak lagi diarahkan untuk memenangkan ide, tetapi untuk menggagalkan individu.
Dari sudut pandang teori pilihan rasional (rational choice theory), langkah Hendriyanto bersifat kalkulatif namun konstruktif: membangun kepercayaan, menunjukkan konsistensi, dan memperkuat legitimasi moral di mata kader.
Sebaliknya, pencalonan yang digerakkan oleh motif emosional dan reaktif justru menunjukkan kalkulasi jangka pendek. menang hari ini, tetapi merusak kohesi partai dalam jangka panjang.
*Pentingnya Pemimpin Kolaboratif*
Dalam politik modern, kepemimpinan tidak lagi hanya diukur dari kekuatan struktural internal, tetapi juga dari kemampuan membangun kolaborasi lintas aktor dan stakeholder.
Dalam konteks Sumatera Utara yang kompleks secara sosial dan politik, kapasitas ini menjadi modal strategis yang sangat menentukan.
Dalam teori governance dan collaborative leadership, partai politik yang mampu bertahan adalah partai yang dipimpin oleh figur yang dapat menjembatani kepentingan internal dan eksternal.
Hendriyanto Sitorus menunjukkan kemampuan tersebut melalui relasi yang relatif harmonis dengan berbagai stakeholder di tingkat provinsi mulai dari elite pemerintahan, tokoh masyarakat, hingga jaringan strategis non-partisan.
Ini bukan sekadar jejaring personal, melainkan modal kolaboratif yang bernilai politik tinggi.
Robert Putnam dalam teori modal sosial (social capital) menegaskan bahwa kepercayaan (trust), jaringan (networks), dan norma timbal balik (reciprocity) adalah fondasi utama efektivitas organisasi politik.
Dalam kerangka ini, Hendriyanto tidak hanya mengumpulkan dukungan internal, tetapi juga membangun bridging social capital kemampuan menghubungkan Golkar dengan aktor-aktor strategis di luar partai.
Modal inilah yang kerap tidak dimiliki oleh kandidat yang hanya mengandalkan konflik internal sebagai sumber energi politiknya.
*Kepemimpinan Transformatif, Terbuka dan Jujur*
Jika ditinjau melalui teori dramaturgi Erving Goffman, Hendriyanto Sitorus memainkan peran politiknya secara terbuka di “panggung depan” dengan narasi membesarkan Golkar dan memperkuat kaderisasi.
Publik partai disuguhi pesan yang relatif konsisten antara ucapan dan tindakan.
Sementara itu, kandidat lain lebih aktif di “panggung belakang”, di mana negosiasi, intrik, dan agenda tersembunyi menjadi alat utama untuk membentuk realitas politik.
Lebih jauh, fenomena ini juga dapat dibaca melalui teori institusionalisme, yang menekankan pentingnya aturan, norma, dan tradisi organisasi.
Golkar sebagai partai mapan sejatinya hidup dari disiplin institusi, bukan dari personalisasi konflik.
Ketika proses institusional dibajak oleh kepentingan emosional elite, partai berisiko mengalami institutional decay atau pelemahan institusi dari dalam.
Hendriyanto Sitorus, sebagai figur muda, membawa modal simbolik yang kuat. Modal simbolik berupa legitimasi moral dan konsistensi kaderisasi.
Modal ini sering kali lebih berbahaya bagi elite lama dibandingkan kekuatan finansial atau jaringan sesaat, karena ia menggerus klaim moral lawan secara perlahan namun sistematis.
Pada titik inilah Golkar diuji. Apakah partai akan memilih jalur regenerasi berbasis meritokrasi, atau justru tunduk pada politik balas dendam yang berwatak reaktif dan anti-perubahan.
*Penutup*
Sejarah partai politik di berbagai negara menunjukkan, partai yang gagal mengelola regenerasi elite akan terjebak dalam konflik internal berkepanjangan dan kehilangan kepercayaan publik.
Dengan demikian, pengembalian formulir oleh Hendriyanto Sitorus bukan hanya langkah personal, melainkan refleksi pertarungan ideologis dan politik komitmen yang dimiliki.
Golkar membutuhkan yang pertama untuk bertahan dan berkembang yang kedua hanya akan mempercepat kelelahan institusional.
Oleh : M Taufiq Hidayah Tanjung.
Editor : Diko.
