Cerita Menohok Narapidana Yang Dihukum Mati di Kursi Elektrik


DN7 | Internasional - 

Cerita menohok seorang narapida yang dihukum mati untuk ibunya. Ibuku tersayang, jika hukum itu adil, saat ini juga kamu akan berada di sini duduk denganku menunggu untuk di setrum di kursi elektrik ini, saya di nyatakan salah atas kejahatan yang kita lakukan bersama...

Ibu, ingat tidak waktu anakmu berumur 3 tahun, Aku mencuri permen kakak? ibu tidak membetulkannku, ibu tidak bilang bahwa aku salah dan yang kulakukan itu tidak baik. 

Aku juga ingat waktu aku berumur 5 tahun, Pada hari itu aku mencuri mainan tetangga dan menyembunyikannya di rumah, tapi kamu kamu bilang: "mainan itu tidak ada di rumah" .

Ibu, ketika aku berumur 12 tahun, Aku menyembunyikan bola sepupuku di garasi rumah. ketika dia datang bermain kerumah, tapi ibu malah bilang: "Ibu memang melihatnya sebelum bola itu hilang".

Apa ibu ingat di hari ketika aku di keluarkan dari sekolah waktu aku berumur 15 tahun? Ayah ingin menghukumku, tapi ibu menolaknya dan di hari itu ibu bertengkar hebat dengan Ayah hanya karena ingin membelaku. ibu bilang aku masih muda. ibu juga bilang bahwa guru salah sudah mengatakan kalau aku tidak hadir di kelas, ibu membelaku, ibu bilang belum waktunya aku tahu bahwa aku salah. 

Ibu juga ingat dengan baik, ibu melihat aku mencuri sepeda tetangga ketika aku berumur 17 tahun, tapi ibu tidak melaporkan bahwa aku sudah menjualnya. ibu malah diam saja. ibu sangat sangat mencintaiku.  ya, ibu sayang padaku, tapi ibu tidak membetulkan aku dan malah memanjakanku. 

Itulah bagaimana semuanya berawal dan selesai perlahan-lahan sampai hari ini ketika saya di setrum karena perampokan dan pembunuhan. aku masih sangat muda ibu, aku butuh perlindunganmu saja. dan saat ibu membaca ini, aku sudah mati. salam anakmu tersayang..."

Bisa di lihat bahwa sang anak merasa sangat kecewa atas parenting atau didikan sang ibu yang tidak membenarkan apa yang salah dan tidak memberi tau tentang pentingnya menjadi orang baik. (Aska Motivation, net) 

Editor : Sapta



No comments

Powered by Blogger.