Wartawan Dikonews7.com Menelusuri Pemandian Bersejarah Putru Hijau - Diko News

Wartawan Dikonews7.com Menelusuri Pemandian Bersejarah Putru Hijau



DN7 | Namorambe - Tempat pemandian Putri Hijau terletak di Desa Deli Tua, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dengan koordinat 030 28’ 57,9” LU dan 0980 40’ 27.0” BT, memiliki cerita yang melegenda. 

Penasaran dengan cerita orang, awak media ini pun menusuri kelokasi tersebut. Sesampai di lokasi, seorang penjaga mencerita sejarah tentang pemandian tersebut. Kata Brahma

Safri menjelaskan, masyarakat pada umumnya memercayai keberadaan benteng tanah di Deli Tua berkaitan erat dengan keberadaan Mitologi Putri Hijau. Pancuran Gading yang terdapat di depan pintu masuk, di bagian bawah benteng merupakan sumber mata air keramat, yang dipercaya sebagai tempat pemandian Putri Hijau.

Dikisahkan bahwa Putri Hijau adalah merupakan putri dari Sultan Deli yang beristana di Deli Tua saat ini. Karena kecantikannya, putri tersebut menarik minat Raja Aceh, sehingga timbullah keinginan untuk meminang putri tersebut. Namun gayung tak bersambut, penolakan pinangan menimbulkan ketersinggungan yang berujung pada penyerangan yang dilakukan Kerajaan Aceh ke wilayah Deli.
Mendapat perlawanan yang cukup sengit, Kerajaan Aceh menggunakan strategi dengan menembakkan peluru yang diisi dengan uang emas. Melihat keadaan itu buyarlah konsentrasi pasukan Kesultanan Deli sehingga dengan mudah Kerajaan Aceh menguasai keadaan. Melihat keadaan itu seorang saudara Putri Hijau yang merupakan seekor naga dan mengambil inisiatif membawa lari Putri Hijau, sedangkan saudara lainnya, yang merupakan meriam tetap melakukan perlawanan dengan memuntahkan peluru-pelurunya. Akibat terlalu sering ditembakkan meriam tersebut pecah karena panas. Pecahan meriam tersebut terlontar ke Labuhan-Deli dan sebagian lagi ke Sukanalu, Tanah Karo. Sementara itu untuk menghindari penguasaan Kerajaan Aceh sang putri diungsikan oleh saudaranya yang menjelma menjadi naga menyusuri aliran Sungai Deli, menuju ke Selat Malaka dan akhirnya menuju Teluk Jambu Air (Jambu Aye) di dekat Lhokseumawe.
Mitologi Putri Hijau merupakan sarana untuk menyampaikan informasi, data sejarah yang terjadi pada masa itu berkaitan dengan penyerangan Kerajaan Aceh ke wilayah Aru (?) yang merupakan cikal-bakal kerajaan Deli saat ini. Beberapa fakta yang disepakati di antaranya adalah telah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Kerajaan Aceh ke wilayah Kerajaan Aru yang berakibat keruntuhan Kerajaan Aru.
Mitologi yang menyatakan Putri Hijau bersaudara dengan naga dan meriam puntung bertujuan untuk mengukuhkan keberadaan Kerajaan Aru. Ketiganya perlambang bahwa Raja Aru mengesahkan dirinya sebagai penguasa dari Kerajaan Aru yang ditandai dengan pernyataan bahwa Raja Aru memiliki anak berwujud naga. Seperti disebutkan di atas, ular/naga, adalah jin penguasa tanah, demikian juga dengan pernyataan bahwa Raja Aru memiliki anak Putri Hijau yang merupakan simbol dari vegetasi yang terdapat di permukaannya. Dengan adanya pengakuan bahwa Raja Aru memiliki anak Putri Hijau dan Naga, menunjukkan bahwa bumi pertiwi beserta vegetasinya (hijau) serta naga yang merupakan penguasa tanah (bumi) adalah “anak” dari Raja Aru. Upaya ini adalah untuk melegitimasi bahwa Raja Aru adalah pemilik yang sah dari “Bumi Aru” beserta isinya.
Pinangan Kerajaan Aceh terhadap Putri Hijau yang cantik rupawan merupakan penghalusan dari kalimat penaklukan yang dilakukan oleh Kesultanan Aceh. Kecantikan Putri Hijau lebih bermakna kecantikan/kesuburan bumi dan alam Kerajaan Aru yang sangat terkenal sampai ke Aceh. Hal ini berhubungan dengan ekspansi Kerajaan Aceh yang pada masa itu Aru dipandang merupakan kekuatan yang akan menjadi pesaing. “Pinangan” dari Kesultanan Aceh terhadap Puteri Hijau tentu saja ditolak. Sebagai sebuah kerajaan yang mandiri keinginan Kesultanan Aceh untuk menjadikan Kerajaan Aru sebagai daerah taklukan mendapatkan penolakan, sehingga Kesultanan Aceh menggunakan cara peperangan. Disebutkan dalam mitologi tersebut bahwa Putri Hijau tidak bersedia dan akhirnya melarikan diri. Tuanku Luckman Sinar meyebutkan bahwa Putri Hijau menggunakan perahu dengan motif kepala naga menuju Selat Malaka. Pertahanan terakhir adalah Meriam Puntung. Mengingat jasa-jasanya pada masa belakangan meriam tersebut diperlakukan sebagai “anak/saudara” Puteri Hijau dan Naga Simangombus.
Penaklukan Aceh terhadap Aru kemungkinan diiringi juga dengan proses Islamisasi mengingat pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan institusi Islam yang cukup gencar melancarkan Islamisasi. Akibat penaklukan ini adalah mulai dikenalnya Islam di daerah yang menjadi kekuasaan Kesultanan Deli. Pada masa itu kemungkinan masyarakat Aru masih menganut kepercayaan yang telah ada sebelumnya (Agama Hindu/Budha), hal ini terlihat dari temuan berupa fragmen lingga (simbol dari Dewa Siwa) yang saat ini terdapat di Sukanalu yang oleh masyarakat dianggap sebagai peluru meriam. Sampai sekarang, meriam puntung, yang dianggap keramat oleh kesultanan Deli masih terdapat di Istana Maimon. Meriam puntung adalah merupakan salah satu bukti simbol gigihnya perlawanan masyarakat Aru (Deli) disaat penaklukan oleh kerajaan Aceh. Pengkultusan meriam puntung yang dalam mitologi dianggap sebagai saudara Putri Hijau pada hakikatnya adalah untuk mengingatkan kita generasi penerus bahwa perjuangan untuk mempertahankan kebenaran adalah mutlak, walaupun adakalanya mengorbankan diri kita. Selain itu meriam puntung dianggap sebagai ikon pemersatu beberapa sub etnis asli penduduk Kerajaan Deli.
Penaklukan Aceh jangan dianggap upaya untuk memecah belah persatuan yang ada, penaklukan Aceh lebih banyak hanya bersifat politis mengingat Aru sebagai kerajaan yang besar suatu saat akan menjadi ancaman. Meriam puntung yang saat ini tersimpan di Istana Maimon tersimpan sebagai benda sakral yang merupakan symbol dari berhasil dikuasainya Kerajaan Aru yang merupakan cikal-bakal kerajaan Deli yang telah mendapat pengaruh dari kerajaan Aceh. Pecahan meriam puntung yang terdapat di Sukanalu adalah ungkapan yang terdapat di masyarakat bahwa pada masa lampau, dan masa kini, masyarakat Karo, yang diwakili oleh masyarakat Sukanalu, adalah merupakan bagian dari Kerajaan Deli. (Safri, rel) 
Editor : Sapta

No comments

Powered by Blogger.
close