Arti dan Makna Bangunan Jam Gadang Era Hindia-Belanda - Diko News

Arti dan Makna Bangunan Jam Gadang Era Hindia-Belanda


DikoNews7 | Bukit Tinggi - Tidak lengkap rasanya jika kita ke Kota Bukit Tinggi tanpa melihat dan mengabadikan foto bangunan yang menjadi simbol Jam Gadang di kota ini. 
Bangunan peninggalan era Hindia-Belanda tersebut yang identik dengan kota yang dahulu pernah menjadi ibukota Provinsi Sumatera Barat.
Perjalanan waktu selama 10 tahun yang lalu tidak membuat monumen ini dilupakan oleh warga Bukit Tingg terutama putra daerah. Menara jam Gadang ini terus menjadi kebanggaan mereka yang terpampang khas kota ini.
Menurut cerita, Jam Gadang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda. Jam ini merupakan hadiah bagi sekretaris (Controleur) Kota Bukit Tinggi (Fort de Kock) yang saat itu dijabat HR Rookmaaker.
Konstruksi bangunan menara jam ini dibangun oleh arsitek asli Minangkabau, Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Pembangunannya secara resmi selesai pada tahun 1926 dengan menghabiskan dana mencapai 3.000 Gulden.
Monumen Jam Gadang berdiri setinggi 26 meter di tengah Taman Sabai Nan Aluih, yang dianggap sebagai patokan titik sentral (Titik Nol) Kota Bukittinggi. 
Bangunan Jam Gadang ini memiliki 4 tingkat dan 4 sisi yang sama. Bangunan tersebut tidak menggunakan rangka logam dan semen, tetapi menggunakan campuran batu kapur, putih telur, dan pasir.
Tingkat 1 merupakan ruangan petugas, tingkat 2 tempat bandul pemberat jam, tingkat 3 tempat mesin jam dan tingkat 4 puncak menara lonceng jam ditempatkan, dan tertera nama produsen mesin pembuat jam.
Sementara, atap berbentuk gonjong di puncak menara yang dapat disaksikan bukanlah bentuk asli dari bangunan tersebut pada masa awal pendiriannya. Desain awal puncak Jam Gadang berbentuk bulat bergaya khas Eropa, dengan patung ayam jantan di bagian atasnya.
Memasuki era pendudukan Jepang, atap Jam Gadang dirubah mengikuti gaya arsitektur Jepang. Saat era kemerdekaan tiba, atap tersebut dirombak kembali menjadi bentuk atap bagonjong yang merupakan ciri khas dari arsitektur bangunan asli Minangkabau.
Mesin jam yang digunakan di dalam monumen ini merupakan barang langka yang hanya diproduksi 2 unit oleh pabrik Vortmann Recklinghausen, Jerman. 
Unit kedua yang setipe dengannya hingga kini masih digunakan dalam menara jam legendaris Kota London, Inggris, yaitu Big Ben.
Sistem bekerja di dalamnya menggerakkan jam secara mekanik melalui dua bandul besar yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Sistem tersebut membuat jam ini terus berfungsi selama bertahun-tahun tanpa sumber energi apapun.
Mesin yang berada di lantai tiga ini menggerakkan jarum jam yang menghadap keempat penjuru mata angin. Diameter masing-masing area perputaran jarum jam tersebut adalah 80 centimeter.
Seluruh angka jam dibuat menggunakan sistem penomoran Romawi, akan tetapi angka empat ditulis dengan cara diluar kelaziman, yaitu dengan empat huruf 'I' (IIII) dan bukan dengan tulisan 'IV'. Hal ini menjadi salah satu daya tarik yang menimbulkan rasa penasaran bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota ini. 

Reporter : Asen
Editor : Sapta
Sumber : Wikipedia

No comments

Powered by Blogger.
close