Header

Taliban Kembali Melanggar Janji, Bunuh Musisi Afghanistan karena Musik

Taliban Kembali Melanggar Janji, Bunuh Penyanyi Afghanistan Karena Melarang Musik. (dok.Instagram @arthur_dammer/https://www.instagram.com/p/CTP1LPAMcKp/Henry)

DikoNews7 -

Kelompok Taliban sudah berjanji untuk melindungi seluruh rakyat Afghanistan Namun baru-baru ini, beredar kabar seorang musisi folk Afghanistan dibunuh secara brutal oleh Taliban, beberapa hari setelah kelompok tersebut melarang musik diputar di tempat umum.

Pria bernama Fawad Andarabi itu tewas dibunuh oleh Taliban pada 27 Agustus 2021, di dekat rumahnya di daerah pegununan, sebelah utara Kabul. Menurut seorang jurnalis lokal pada CNN, seperti dikutip dari Asione, Selasa, 31 Agustus 2021, Fawad dipaksa keluar dari rumahnya dan dibawa ke daerah persawahan untuk dibunuh.

Menurut putranya, Jawad Andarabi pada Associated Press, pasukan Taliban datang ke rumah mereka dan mencari ayahnya. Jawad melanjutkan, ayahnya ditembak di bagian kepala dan langsung tewas seketika.

"Dia tidak bersalah, dia hanya seorang penyanyi yang menghibur orang-orang," kata Jawad. Yang mengejutkan lagi, kelompok Taliban beberapa hari sebelumnya sudah mendatangi rumah Fawad.

Mereka hanya berbincang seperti biasa dengan Fawad dan bahkan minum teh bersama. Fawad merupakan penyanyi lagu rakyat yang membawakan lagu-lagu tradisional tentang tempat kelahirannya, bangsanya, dan negaranya.

Ia juga memainkan alat musik tradisional bernama ghichak. Kematian Fawad ikut menarik perhatian mantan Menteri Dalam Negeri Afghanistan Masoud Andarabi. Ia berasal dari daerah yang sama dengan Fawad.

Dalam sebuah cuitan di Twitter pada 28 Agustus 2021, ia mengungkapkan jika musisi tersebut dibunuh secara brutal. "Kebrutalan Taliban berlanjut di Andarab. Hari ini mereka secara brutal membunuh penyanyi folkloric, Fawad Andarabi yang hanya membawa kegembiraan bagi lembah ini dan penduduknya," cuit Masoud.

Masoud mengungkapkan jika Fawad dibunuh di dekat Lembah Panjshir desa Andarab. Desa tersebut merupakan daerah yang menampung kekuatan perlawanan kepada Taliban.

Sebelum Fawad dilaporkan tewas dibunuh, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada New York Times bahwa mereka akan melarang musik. "Musik dilarang dalam Islam, tapi kami berharap kami dapat membujuk orang untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu, daripada menekan mereka," ucap Mujahid.

Nasib tragis yang dialami Fawad mengundang keprihatinan dari sejumlah pihak. Pelapor Khusus PBB untuk hak budaya Karima Bennoune dan Duta Besar UNESCO untuk kebebasan artistik Deeyah Khan, telah menyatakan "keprihatinan besar" atas laporan pembunuhan Andarabi.

"Sebagai Pelapor Khusus PBB untuk hak budaya, (dengan) Duta Besar UNESCO untuk kebebasan artistik Deeyah Khan, saya menyatakan keprihatinan yang mendalam tentang laporan pembunuhan mengerikan penyanyi #FawadAndarabi. Kami menyerukan kepada pemerintah untuk menuntut Taliban menghormati #hak asasi manusia # seniman," cuit Bennoune di Twitter pada 28 Agustus 2021.

Lembah Andarab terletak di sebelah Lembah Panjshir, 90 mil utara Kabul, di mana pertempuran sporadis antara Taliban dan koalisi bersenjata milisi utara yang dikenal sebagai Aliansi Utara telah berlangsung sejak pekan lalu. Beberapa pertempuran baru-baru ini juga terjadi di distrik-distrik Lembah Andarab.

Meskipun Taliban kembali berkuasa dengan nada bicara yang lebih lembut dibandingkan dengan pemerintahan mereka pada 1996-2001, tetap ada kekhawatiran akan kembalinya rezim yang represif.

 

 

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel