April 2024, Sumatera Utara Diproyeksikan Deflasi


DikoNews7 -

Sejumlah harga kebutuhan pangan masyarakat di wilayah Sumatra Utara (Sumut) akan menciptakan deflasi di bulan April ini, meskipun sejumlah komoditas pangan akan menyumbang inflasi. 

Beberapa komoditas pangan seperti gula pasir, minyak goreng, bawang merah, bawang putih dan harga emas tetap akan menyumbang inflasi di bulan April ini.

Harga gula pasir rata-rata mengalami kenaikan 0.3%, minyak goreng mengalami kenaikan 3.3%, bawang merah naik 10.3%, bawang putih naik 4.2%, dan harga emas mengalami kenaikan 4.7%. 

Sementara itu, sejumlah harga kebutuhan pangan lainnya mengalami penurunan diantaranya adalah cabai merah 28.2%, cabai rawit 22%, daging ayam 8.9%, dan daging sapi turun hampir 1%.

Di sisi lain, harga beras di sejumlah tempat mengalami penurunan namun juga tidak serentak turun di bulan April ini. 

“Harga tomat, kentang, tiket pesawat juga dalam tren penurunan harga di bulan Appil ini. Sehingga saya memproyeksikan Sumut akan mengalami deflasi sebesar 0.17% atau dibawah 0.2%,” ujar Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin di Medan, Minggu (28/4/2024). 

Gunawan menyebut, ekspektasi  deflasi di bulan April ini masih jauh dari harapannya. Gangguan cuaca telah mengakibatkan harga bawang merah mengalami kenaikan yang cukup tajam. 

Disusul kenaikan harga emas yang dipicu oleh kenaikan harga emas dunia seiring dengan meluasnya perang di Timur Tengah. 

Sementara harga cabai yang justru ditopang oleh panen besar di sejumlah sentra produksi di Sumut, nyatanya tidak membuat harga cabai mampu bertahan lama dibawah Rp30 ribu per Kg.

Tingginya demand atau permintaan cabai dari luar wilayah Sumut mengakibatkan harga cabai merah tidak mampu mencapi penurunan potensialnya. Meskipun kondisi tersebut tentunya baik buat petani di wilayah ini. 

Dan cuaca yang kurang bersahabat bagi tanaman (kemarau), membuat produksi tanaman turun paling sedikit 15% di musim panen ini dibandingkan dengan panen saat cuaca mendukung.

“Realisasi deflasi di Sumut pada bulan ini menunjukan bahwa tantangan pengendalian inflasi menjadi sangat berat. Sisi supply tidak tersedia optimal yang dikarenakan cuaca buruk hingga tensi geopolitik di negara lain. Harga pangan strategis di wilayah Sumut masih fluktuatif hingga tutup tahun ini,” pungkasnya. (*)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel