Header

PTPN2 Siap Menjawab Tantangan Kebutuhan Gula di Sumut

 

FOTO : Para karyawan sedang bekerja di pabrik gula Sei Semayang.

DN7 | Medan -

TINGGINYA angka kebutuhan gula pasir masyarakat di Sumatera Utara merupakan tantangan sekaligus kesempatan bagi PT Perkebunan Nusantara 2 (PTP N2) untuk memacu produksi dua pabrik gula yang dimilikinya yakni PG Sei Semayang dan PG Kwala Madu yang sudah kembali berproduksi sejak pertengahan tahun 2020. 
 
Apalagi tingkat kebutuhan masyarakat bisa meningkat sampai 23 ribu ton per bulan jika memasuki bulan Ramadhan danIdulFitri.
             
Direktur Utama PTPN2 Irwan Perangin-angin mengungkapkan, tidak hanya jumlah produksi tetapi kualitas gula pasir yang dihasilkan juga diupayakan lebih baik sehingga mampu bersaing di pasar lokal. 
 
Saat ini PTP N2 sudah memproduksi“Walini”gula pasirkemasan 1 kg yang sudah mulai memasuki pasar lokal dengan harga di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi) yakni Rp. 12.500/ kg.
 
Untuk mendukung upaya peningkatan kualitas itu tahun ini PTPN2 telah menjalin kerjasama dengan Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) yang menghadirkan 56 orang mahasiswa semester akhir. 
 
Kerjasama ini bertujuan memberikan dukungan dalam pengawasan mutu. Irwan yakin target 65 ton tebu per haktare dapat diraih. Bukan hanya LPP, untuk ikut mendukung memonitor mutu PTPN2 juga membentuk tim khusus. Tim ini juga akan terlibat dalam mengawasi mutu dan restant tebu di kebun.
 
Ditemui di kantor pusat PTPN2 di Tanjung Morawa beberapa hari lalu, Irwan merasa sangat bergairah menghadapi tantangan yang ada, khususnya menyangkut produksi gula dari dua pabrik yang sempat terhenti selama enam tahun. 
 
“Saya yakin dengan sinergi yang kita bangun mulai dari jajaran direksi sampai ke level paling bawah di kebun akan mampu mendorong peningkatan produksi sekaligus mutu seperti yang kita harapkan,” ujarnya.
 
Menurut mantan Sekretaris Holding PTP Nusantara 3 Persero itu pabrik gula Sei Semayang dan Kwala Madu mampu menggiling 3.200 ton tebu per hari dengan perolehan gula sebanyak 197 ton dengan rendemen 6,16 persen. 
 
“Kita akan berupaya untuk menaikkan rendemen hingga 6,2 persen, dan produksi tebu per hektar mencapai angka 72 ton lebih,” tambahnya. Apalagi saat ini di lapangan pihaknya sudah menggunakan alat panen mekanis yang cukup modern yaknicane hesverter yang mampu memanen hingga 15 ton per jam. **
 
Editor : Diko

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel