Header

Minggu Pertama Jadi Penentu, Kondisi Pasien Covid-19 Bisa Membaik atau Memburuk

Foto : Seorang pasien virus corona COVID-19 terlihat menggunakan oksigen di unit perawatan intensif (ICU) di sebuah rumah sakit di Lhokseumawe, Aceh, Selasa (7/7/2021). (Azwar Ipank/AFP)

DikoNews7 -

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH mengungkapkan bagaimana minggu pertama sejak didiagnosis Covid-19 sangat penting. Sebab di waktu ini, kondisi seseorang bisa membaik atau semakin memburuk.

"Saat virus masuk kedalam tubuh, daya tahan tubuh akan melawan keberadaan virus tersebut yang kita sebut masa inkubasi sampai seorang yang sudah terpapar infeksi tersebut mengalami gejala". 

"Oleh karena itu penting sekali mengobservasi diri kita sendiri untuk mengetahui perubahan yang dialami pada tubuh di masa pandemi ini. Dan minggu pertama saat seseorang sudah bergejala merupakan kunci penting apakah kita bisa sembuh atau sebaliknya kondisi kita semakin buruk," katanya, melalui pesan singkat kepada Health Liputan6.com.

Menurut Prof Ari, WHO bisa mengeluarkan rekomendasi untuk pasien yang terinfeksi virus dan tanpa gejala cukup isolasi mandiri selama 10 hari dan bisa dikatakan sembuh dan bisa lepas isolasi. Karena jika dalam 10 hari masih tetap tanpa gejala, sebenarnya daya tahan tubuh kita bisa menghancurkan virus tersebut.

"Makanya untuk pasien tanpa gejala tidak perlu minum antivirus, cukup dengan vitamin-vitamin. Begitu pun untuk pasien dengan gejala ringan, diusahakan agar tetap dipertahankan tidak memburuk khususnya pada minggu pertama tersebut," jelasnya.

Prof Ari menuturkan, pasien dianggap sudah berhasil mengatasi infeksinya setelah melewati masa isolasi 10 hari ditambah tiga hari tanpa gejala.

"Kuncinya adalah istirahat, banyak tidur, tidak stres tetap makan dan minum yang cukup. Ketika badan sudah tidak nyaman segera istirahat jangan dipaksakan untuk tetap bekerja atau beraktifitas. Karena pada minggu pertama, kita harus memberikan kesempatan daya tubuh kita bisa melawan virus tersebut," katanya.

Pada pasien dengan gejala ringan dan sedang yang sedang isoman antivirus seperti favipirafir dan obat azitromisin sudah bisa diberikan. Favipiravir sebagai obat anti virus untuk mengurangi jumlah virus dan sedang azitromisin sebagai anti radang dan imunomodulator untuk melawan virus tersebut.

"Observasi saya atas kasus yang memburuk salah satu nya adalah mengonsumsi dexamethasone baik generik maupun merk dagang. Beberapa waktu ada edaran yang memberikan daftar obat untuk pasien isoman salah satunya untuk mengosumsi dexamethasone, saya juga menemukan resep dari platform telemedicine yang juga memberikan dexamethasone," ujarnya.

Sementara ilmu kedokterkan berbasis bukti menyebut dexamethasone tidak berguna untuk pasien tanpa gejala, begitupun untuk gejala ringan dan sedang. Namun menurut Prof Ari, obat ini ibarat pisau bermata dua.

"Untuk yang tanpa gejala, gejala ringan dan sedang khususnya diawal penyakit yang dibutuhkan adalah peningkatan daya tahan tubuh. Dexamethasone membuat daya tahan tubuh kita menjadi lemah, sehingga membuat virus menjadi mudah meraja lela, untuk pasien dengan hipertensi dan kencing manis, dexamethasone bisa membuat gula darah menjadi tidak terkendali, untuk yang menderita hipertensi tekanan darah menjadi tidak terkontrol," jelasnya.

Kedua, lanjut dia, ini akan memperburuk pasien dengan kedua penyakit ini yang memang menjadi komorbid untuk pasien Covid-19. 

"Efek samping dexamethasone juga menyebabkan pasien menjadi mudah cemas dan insomnia, hal yang harus dihindari saat kita menderita Covid-19. Belum lagi dexamethasone membuat kita menjadi mual dan perih di lambung membuat kita nafsu makan. Hal ini menjadi catatan pemberian ini akan membuat kondisi bertambah buruk," pungkasnya.

Editor : Diko

 

 

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel